Menemukan Guru Sejati

c. Menemukan Guru Sejati

Seorang Guru yang baik sering tidak dapat atau sangat sulit dimengerti oleh seorang murid, apalagi oleh orang-orang biasa. Beliau merupakan “barang langka” atau bagaikan “si pungguk merindukan rembulan” bagi seorang murid biasa. Kadang kala seorang Guru akan berlagak bodoh/lugu di hadapan muridnya, menanyakan sesuatu kepada sang murid seolah-olah beliau tidak mengerti apa-apa, tetapi di balik “ketidak-mengertian” yang ditunjukkan lewat pertanyaan tersebut sang guru ingin mengajarkan kepada muridnya mengenai apa-apa yang ditanyakan itu tanpa harus memberikan perintah kepada sang murid.

Guru, dalam beberapa hal, jika memberikan perintah langsung, belum tentu sang murid dapat menerimanya langsung, sebab secara umum seorang siswa/murid yang belum maju, akan merasa kesulitan untuk meminggirkan egonya. Sering terjadi bahwa siswa diberikan pelajaran atau arahan oleh sang guru, tetapi berbalik murid itu memberikan pelajaran kepada sang Guru. Demikianlah sang guru secara sembunyi-sembunyi berusaha mengangkat muridnya menuju jalan keinsyafan diri.

Seorang guru akan memberikan berkah apa pun kepada muridnya dalam berbagai bentuk. Kadang memberikan berkah lewat pemberian inspirasi, tanda-tanda, isyarat-isyarat, contoh-contoh, dan terhadap murid tertentu kadang-kadang beliau memberikan pelajaran dengan cara disiplin yang keras, sehingga tampaknya seperti kemarahan besar, seperti kekejaman besar. Namun, dengan cara tersebut sang Guru ingin membuat muridnya kaget dan sadar akan diri, hingga menyadari bahwa dia berada di jalan yang tidak diinginkan oleh sang guru, demi mengangkat kesadaran sang siswa ke tingkat spiritual.

Sang murid yang beruntung dapat melaksanakan perintah-perintah, anjuran-anjuran, petunjuk-petunjukdan contoh-contoh yang diberikan sang Guru dengan penuh keyakinan serta penuh bhakti, akan mendapatkan berkah khusus sang Guru, yang merupakan jaminan baginya untuk memperoleh kemajuan spiritual dengan mudah, tanpa ia harus melakukan pertapaan keras pergi ke hutan sambil melakukan puasa, atau menyiksa diri dengan cara-cara yang sangat mengerikan. Sebab, berkah seorang Guru adalah berkah yang jauh dari “tangkpan” kecerdasan seorang murid, berkah yang tidak dapat diberikan “nilai” dan tidak bisa “ditimbang-timbang” (dibandingkan/dibalas) dengan pelayanan yang dilakukan seorang murid.

Seringkali, dalam usaha mematuhi perintah sang Guru, seorang siswa spiritual harus melupakan kepentingan-kepentingan pribadi, meninggalkan berbagai hal yang ia senangi, atau ia harus menghadapi tantangan-tantangan dan cobaan-cobaan berat. Tetapi, seorang siswa spiritual yang patuh akan tetap melaksanakan amanat atau ajaran-ajaran sang Guru dengan penuh keyakinan dan tanpa mempertimbangkan untung-rugi, demi kemajuan spiritualnya, dan hanya demi kelengkapannya di dalam kemajuan spiritualnya.

Tokoh nomor dua Pandava, Sang Vrekodara atau Bhima, walaupun mengetahui perintah Gurunya (pendeta Drona) adalah perintah yang “impossible”, suatu perintah yang tidak mungkin dapat dilakukan oleh insan manusia, atau kalau toh mungkin dapat dilakukan, ia tidak mungkin akan memberikan hasil, tetapi Bhima, tanpa terganggu sedikitpun oleh bayangan perintah “impossible” tersebut, ia tetap mantap melakukan perintah Gurunya tanpa goyah sama sekali. Bagi seorang Bhima, perintah Guru adalah perintah Tuhan. Dan Bhima melaksanakan perintah tersebut tanpa tanda tanya sedikit pun.

Ceritanya adalah, Guru Drona memberikan perintah kepada Bhima untuk mencari Tirtha Amerta di dasar laut (walaupun di balik perintah tersebut Drona Acarya bermaksud membunuh Bhima demi memenangkan Kaurava). Bhima melaksanakan perintah tersebut dengan patuh dan penuh rasa bhakti pada Guru. Bhima masuk ke laut, masuk semakin jauh ke dalam laut. Bhima menemukan halangan-halangan berat selama pencarian tersebut, namun pada akhirnya ia berbahagia mendapatkan Tirtha Amerta yang dimaksud.

Peristiwa atau cerita Bhima mencari Tirtha Amerta itu sangat dikenal oleh leluhur-leluhur Bali dan Jawa khususnya, serta mendapat perhatian penting di dalam praktek-praktek spiritual masyarakat Jawa maupun Bali. Cerita ini di Jawa disebar luaskan oleh para Dalang lewat cerita-cerita pewayangan dan dikenal sebagai adegan Dewa Ruci.

Pendeta Drona dalam cerita pewayangan India mendapat gelar Acarya. Seorang Guru biasanya mendapat sebutan atau julukan “Acarya”. Seorang Acarya di dalam berbagai literatur kuno Sanskerta disebutkan sebagai: beliau yang patut diikuti oleh siswa-siswa di dalam usaha mengembangkan spiritualnya. Acarya berarti beliau yang memberikan ajaran-ajaran spiritual kepada muridnya lewat contoh-contoh tingkah laku yang beliau lakukan sendiri. Dalam artian bahwa apa yang beliau ajarkan telah dilakukannya atau dilaksanakannya matang-matang. Beliau tidak lagi hanya berteori, sedangkan dirinya sendiri tidak melakukan apa-apa.

Kitab suci Wahyu Purana menjelaskan perihal kata Acarya sebagai: beliau yang telah menguasai sari-sari kitab suci, mengajarkan tujuan utama kitab-kitab suci tersebut, mengajarkan siswa-siswa untuk mematuhi aturan-aturan yang disebutkan di dalam kitab suci dan mengajarkan kepada siswa-siswa spiritualnya untuk melaksanakan perbuatan-perbuatan sesuai dengan petunjuk-petunjuk kitab suci.

Orang yang sudah menyandang gelar Acarya tidak akan lagi menjadi buah bibir masyarakat di dalam tingkah laku yang menyimpang dari ajaran-ajaran kitab suci. Memang sekarang ada kecenderungan kata acarya menjadi begitu murah. Gelar acarya tidak lagi memberikan getaran kewibawaan seperti zaman dahulu. Sebab, ia bisa didapatkan dengan begitu mudah, tanpa memperhatikan kemampuan spiritual dan karakter. Yang diutamakan hanyalah suatu masa tertentu dan kecerdasan. Di beberapa tempat di India, gelar acarya juga “diberikan” oleh diri sendiri. Hal ini memang “mengaburkan” keberadaan para acarya yang memang benar-benar memenuhi syarat dan bonafid. Terkadang para acarya yang mengutamakan kecerdasan ota, mempunyai kecenderungan mencari “kepuasan” di dalam mengkritik yang lain atau mendebat yang lain. Tentu saja ia adalah sebuah kecenderungan yang memperbesar keakuan palsunya dan tanpa disadari telah “mengikis” gelar acaryanya.

Seorang spiritual yang baik hendaknya menerima seorang Guru sebagai utusan dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Sesungguhnya Tuhna Yang Maha Esa mewujudkan diri-Nya sebagai seorang Guru demi memberikan bimbingan spiritual kepada sang murid. Bimbingan seorang Guru yang bonafid dan suci akan segera dapat meningkatkan kemajuan spiritual sang murid. Tuhan berkenan mewujudkan Diri Beliau untuk memberikan bimbingan secara langsung kepada manusia. Hal itu dilakukan apabila sang siswa masih bisa dijangkau oleh pergaulan masyarakat biasa. Tetapi, bilamana sang siswa berada di luar lingkungan pergaulan masyarakat umum, jika ia berada di tempat yang sepi tanpa penghuni, maka di saat itu Tuhand datang langsung dalam wujud-Nya. Bagi orang-orang biasa, bimbingan dari orang yang bisa dilihat langsung akan lebih meyakinkan. Oleh karena itulah Tuhan memilih roh-roh agung dan suci tertentu untuk melakukan pelayanan pada Tuhan dengan cara memberikan bimbingan jalan spiritual kepada umat manusia.

Suatu hari, saya berkunjung ke rumah Ketua World Ramayana Conference, Pandit Lallan Prasad Vyas, di New Delhi, India. Kami biasanya berjam-jam bercerita tentang spiritual. Pada waktu itulah Mr. Vyas memberikan kisah atau kejadian nyata yang terjadi di pegunungan Himalaya.

Seorang pendeta melakukan perjalanan spiritual ke Himalaya. Di suatu tempat beliau mengalami halangan sakit. Kebetulan ada gubug kecil, beliau tinggal di sana untuk mengembalikan kesehatannya. Hari berganti hari, kesehatannya semakin menyedihkan, sampai akhirnya sang pendeta sama sekali tidak bisa bergerak. Tinggal sendirian di tempat yang sunyi senyap dalam keadaan sakit.

Pada suatu hari, datanglah seorang lelaki memperkenalkan diri dan membawakan pendeta makanan dan minuman serta obat-obatan. Pendeta menerima pelayanan tersebut karena memang sangat memerlukan di saat itu. Pelan-pelan kesehatannya menjadi pulih. Dan lelaki itu tetap datang teratur setiap hari membawakan makanan untuk pendeta. Sering kali hari-hari mereka lewatkan berdua sambil bercerita-cerita ringan.

Suatu ketika, disaat kesehatan pendeta sudah mulai pulih, dikala sedang bercerita-cerita berdua, pendeta diam-diam berpikir dalam hatinya, “Orang ini datang kepadaku setiap hari, dengan tekun dan patuh melakukan pelayanan tanpa pamrih. Tetapi, naik-turun gunung terjal setiap hari dengan bawaan di atas kepala dan bahu, wajahnya tidak menunjukkan kelelahan sama sekali. Siapakah ia sesungguhnya?”

Sang Pendeta tidak mampu menahan diri untuk mendapatkan informasi tentang siapa adanya lelaki tersebut. Timbul keinginan untuk menanyakan tentang siapa lelaki itu sebenarnya. Tiba-tiba, sang pendeta bangkit dan memegang kaki lelaki itu sambil berkata, “Siapa Anda sebenarnya? Saya tidak yakin Anda orang sembarangan… Tidak mungkin orang biasa memiliki kemampuan super ekstra seperti ini, naik-turun gunung setiap hari tanpa menunjukkan kelelahan sedikitpun. Beritahukan saya, siapakah Anda yang sesungguhnya?”

Lelaki tersebut menjawab, “Sang pendeta berpikir, kalau benar, desa di bawah sana terlalu jauh. Untuk mencapainya orang memerlukan waktu dua hari. Belum selesai berpikir sang Pendeta mempererat pelukannya pada kaki lelaki itu sambil berkata, “Tidak.., Anda bukan orang biasa… Anda harus tunjukkan diri Anda. Saya tidak akan melepaskan kaki Anda sebelum menjelaskan siapakah Anda sebenarnya….”

Tanpa disadari…, pendeta hanya memeluk angin… karena lelaku tersebut telah menghilang, dan tiba-tiba di hadapan pendeta itu berdiri Tuhan Yang Maha Pengasih, dalam wujud Shri Vishnu yang bertangan empat. Ternyata lelaki tersebut adalah Shri Vishnu sendiri. Setelah mengetahui yang melayaninya sekian hari adalah Tuhan sendiri, pendeta segera menjatuhkan dirinya di atas tanah dan menyembah sambil menangis memohon ampun. Pendeta merasa berdosa besar karena membiarkan Shri Vishnu memberikan makan, memijit dan pelayanan lain selama berhari-hari.

Pendeta bertanya, apa alasan Shri Vishnu menyiksa diri melayaninya selama sekian hari? Shri Vishnu menjawab bahwa Beliau selalu menjaga dan melindungi bhakta atau penyembah-Nya. Di mana ada orang lain di sekitarnya, beliau akan menjaga dan melindungi bhakta-Nya. Demikianlah, di zaman ini pun Tuhan masih berkenan datang ke bumi ini, hanya untuk menolong bhakta-Nya.

Sang murid jika kesadarannya sudah mantap untuk bermeditasi kepada Tuhan Yang Maha Kuasa yang berada di dalam hatinya, maka Tuhan yang berada di dalam dirinya akan mewujudkan diri-Nya ke luar dalam bentuk seorang Guru yang nyata-nyata dapat dilihat, diikuti tingkah lakunya oleh sang murid, yang nyata-nyata dapat memberikan bimbingan spiritual kepada sang murid. Dengan demikian seorang Guru spiritual merupakan utusan dari Tuhan Yang Maha Kuasa.

Kisa hubungan antara siswa dengan Guru dihubung-hubungkan dengan hubungan Roh dengan Parama Guru (Tuhan), dan ditunjukkan lewat contoh dua ekor burung, yang hinggap di atas sebuah pohon, di cabang yang sama… burung yang satu asyik menikmati buah dari pohon tersebut ada yang manis dan ada yang pahit. Burung tersebut menikmati dengan baik kedua rasa itu. Sedangkan burung satunya…, hanya memperhatikan burung tersebut, mengawasi dan menunggu-nunggu kapan ia berpaling ke arahnya untuk ditolong…, untuk disadarkan bahwa menikmati rasa buah yang manis dan pahit tersebut bukanlah tujuan ia hinggap di pohon tersebut.

Begitulah, Roh yang berada di dalam hati setiap makhluk, asyik menikmati karma/hasil dari perbuatan baik dan buruk, menganggap bahwa itulah tujuan hidup, dan hanya itulah isi dunia ini. Tetapi, Parama Guru yang juga berada di dalam badan kita selalu menunggu dengan sabar, kapan Sang Roh akan menoleh dan memerlukan pertolongan Parama Guru untuk mengangkat dan mengeluarkannya dari lautan kesengsaraan. Parama Guru tidak akan memaksa Roh terperbaiki. Melainkan menunggu kesadaran yang tumbuh dari Roh itu sendiri, bahwa sekarang inilah dalam kesempatan menjadi manusia, merupakan kesempatan emas untuk mencari kesejatian Tuhan Yang Maha Esa, Kebenaran Sejati, yang berada di luar dari kungkungan rasa “buah manis dan pahit”.

Banyak siswa-siswa yang merasa kewalahan atau kesulitan memilih jalan-jalan spiritual atau memilih Guru yang akan memberikan bimbingan kepada dirinya. Diantaranya ada yang menerima dan ada pula yang tidak bisa menerima Guru Spiritual dalam bentuk manusia, hingga akhirnya menerima Tuhan sebagai Guru Spiritualnya. Keduanya sebenarnya tidak ada perbedaan secara prinsip sebab memang Guru Sejati adalah Tuhan sendiri, dan HANYA TUHAN. Sedangkan Guru-guru dalam badan manusia dinamakan Guru Simbol. Di saat orang meningat Gurunya, ia langsung mengingat Parama Guru yaitu Tuhan Yang Maha Esa.

Alasan utama bagi mereka yang termasuk dalam kelompok belakangan, tidak menerima Guru spiritual dalam badan manusia adalah status material dan keterpelajaran. Mereka sering menemukan Guru yang secara kecerdasan dan kedudukan ternyata jauh dari kecerdasan dan kedudukannya di masyarakat. Hal tersebut menghalanginya untuk siap menerima tuntunan spiritual dari Guru itu. Kapan sang siswa memahami bahwa Tuhan adalah Gurunya sendiri, kapan Tuhan melihat kesiapan siswa untuk menerima Tuhan yang ada di dalam dirinya tersebut mewujudkan Diri-Nya ke luar menjadi seorang Guru dalam badan manusia dan akan memberikan bimbingan kepada sang murid sehingga ia dapat berhubungan langsung dengan Tuhan Yang Maha Esa, atau dapat melihat langsung Tuhan Yang Maha Esa, atau dapat melayani langsung Tuhan Yang Maha Esa, maka dalam bentuk seorang Guru Spiritual. Dalam keadaan seperti itu sang murid tidak akan menganggap Gurunya sebagai orang biasa, sebagai insan biasa yang sama dengan dirinya, melainkan ia akan sangat menghormati Gurunya dan mematuhi petunjuk-petunjuknya.

Seorang Guru bonafid adalah orang yang dipercayai oleh Tuhan Yang Maha Esa untuk menyampaikan pesan-pesan-Nya, demi kesejahteraan material-spiritual umat manusia. Seorang Guru seperti itu telah melewati “tempaan” khusus, baik dalam hidup ini maupun dalam penjelmaan-penjelmaan terdahulunya. Sebagaimana halnya orang yang mempelajari ilmu-ilmu duniawi memerluka seorang Guru, demikian pula dalam pencarian spiritual, seorang siswa juga membutuhkan seorang Guru yang bonafid yang mampu memberikan arahan kepada sang siswa dalam menuju bhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa. Guru Spiritual seperti itu mempunyai kemampuan untuk menyeberangkan siswanya dari lautan kesengsaraan, dari kerlap-kerlipnya duniawi menuju seberang lautan untuk sampai ke tingkat spiritual dimana dia akan lelap dalam bhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Guru dalam bahasa Sansekerta artinya “berat”. Dalam hal ini, seorang Guru sejati berat oleh ilmu pengetahuan suci, ilmu pengetahuan tentang Tuhan Yang Maha Esa. Guru yang mantap di dalam jalan spiritual dan ia adalah sempurna di dalam Sang Dirinya. Sempurna di dalam sang dirinya berarti ia sempurna di dalam keseluruhan dari sang dirinya, sempurna dalam kata-katanya, sempurna dalam tingkah laku, dan keseluruhan badannya pun berubah menjadi spiritual.

Guru sejati dengan setulus-tulusnya menginginkan kebaikan seorang murid, selalu menginginkan kemajuan spiritual sang murid. Guru menginginkan sang murid semakin mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, semakin memusatkan kesadarannya kepada Kaki Padma Tuhan Yang Maha Esa. Sang Guru bertanggung jawab mengantarkan muridnya semakin tertarik kepada hal-hal yang bersifat spiritual dan lebih berhati-hati terhadap hal-hal yang bersifat material. Sang Guru akan mengarahkan siswanya mampu tegak dan mengatur hal-hal duniawi secara baik. Dia memiliki sebuah kemampuan untuk menempatkan segala sesuatunya pada proporsi yang benar dan tepat.

Selain itu, Guru Spiritual yang bonafid setiap saat selalu mengawasi dan menebarkan getaran-getaran spiritual serta menginginkan siswanya agar siap menerima getaran-getaran spiritual tersebut setiap saat. Guru akan mengharapkan agar siswanya siap meningkatkan kesadaran spiritualnya dengan penuh keyakinan dan ketabahan. Guru ingin melihat muridnya menyayangi mahluk lain, menyayangi umat manusia lain, menjadi teman dari mahluk hidup yang lain. Guru ingin melihat sang siswa mengabdikan dirinya kepada orang lain, melakukan segala usaha untuk mengangkat kesadaran spiritual orang lain, untuk membuat orang lain tersenyum, untuk semakin memantapkan/menyempurnakan/menyeimbangkan (baca: mengatur dengan tepat dan benar) antara keperluan material dan spiritual, walaupun memang spiritual dan material tidak akan pernah bisa diseimbangkan.

Sang siswa akan dibentuk oleh Gurunya untuk dapat memiliki kemampuan mengatur kebutuhan-kebutuhan duniawinya dengan baik. Seorang Guru Spiritual menginginkan hal tersebut dengan pertimbangan bahwa sang siswa masih berada di dunia material, oleh karena itulah sang Guru ingin melihat kemajuan-kemajuan siswanya dalam berbagai bidang.

Hal lain yang ingin dilihat oleh sang Guru adalah kemantapan tekad sang murid untuk meninggalkan hal-hal yang buruk, meninggalkan hal-hal yang tidak membantu perkembangan spiritualnya, menggantikannya dengan hal-hal baik, kegiatan-kegiatan yang baik serta pelan-pelan akhirnya meningkatkannya ke dalam tindakan-tindakan spiritual.

Adalah wajar seorang Guru ingin melihat muridnya sebagai kepribadian terbaik. Guru menginginkan muridnya memiliki pengetahuan-pengetahuan, pengalaman-pengalaman yang baik, untuk memastikan dia sebagai seorang kandidat yang tepat untuk menerima pengetahuan dari sang Guru. Sering kali sang murid mengabaikan harapan-harapan sang Guru untuk menyucikan diri, membersihkan bathinnya, menjauhkan diri dari hal-hal yang tidak baik, meningkatkan diri dan kesadaran ke dalam kesadaran spiritual. Siswa mengabaikan harapan dan perintah Gurunya, tetapi di lain pihak dia ingin sekali maju dalam bidang spiritual secara tepat. Seorang Guru tidak ingin melihat muridnya seperti itu.

Murid yang baik akan sabar menuntut ilmu dari Gurunya, tidak akan menuntut terlalu banyak tuntutan-tuntutan yang dia sendiri belum siap untuk menerimanya. Dia yakin sepenuhnya bahwa apabila dirinya sudah siap lahir batin, maka Gurunya akan memberikan pengetahuan yang dia perlukan, atau kemajuannya sendiri yang akan menarik Gurunya untuk memberikan bimbingan-bimbingan dan pengetahuan-pengetahuan yang dia butuhkan dalam usahanya memajukan spiritual. Dalam hal ini tekad mantap sang murid untuk menjadi kandidat yang sempurna lahir-bathin adalah kunci penentu kesuksesan spiritual. Bagi seorang Guru, murid seperti itulah yang diakuinya sebagai sisya/siswa.

Sisya di dalam bahasa Sanskerta berarti dia yang mantap di dalam disiplin-disiplin spiritual. Seorang siswa harus memantapkan diri dalam disiplin-disiplin spiritual sesuai dengan arahan dan bimbingan Gurunya. Dia akan merasa sangat senang jika Gurunya memberikan disiplin kepada dirinya dan memberikan batasan-batasan terhadap tingkah lakunya. Bagi seorang siswa, disiplin-disiplin yang diberikan oleh sang Guru akan menyebabkan dia maju baik di dalam spiritual, lebih banyak selamat dari pada kegagalan.

Jaman sekarang di sekolah-sekolah umum sering kali anak-anak atau murid-murid tidak dirangsang atau diajarkan disiplin seperti itu. Atau Gurunya tidak memberikan disiplin tepat waktu dan keadaan. Hal tersebut menyebabkan timbulnya berbagai kejadian diama Guru memberikan pantangan-pantangan, larangan-larangan kecil, tetapi si murid membalasnya dengan kemarahan besar. Siswa itu menganggap bahwa sang Guru tidak senang akan dirinya, bahwa sang Guru marah dengan dirinya, bahwa sang Guru iri hati atas kemajuannya. Hal yang memang semua tidak kita inginkan, oleh karena itulah kata sisya untuk seorang murid spiritual perlu digaris bawahi.

Dalam pencarian seorang Guru sejati memang sering diperlukan keawasan, ketelitian dan keberhati-hatian secara spiritual. Sebab, sedikit keseleo dalam memilih Guru, ia bukannya mengantarkan kita ke jalan terang, melainkan ke jalan neraka yang paling gelap. Orang yang ingin mencari kebenaran sejati hendaknya mendatangi seorang Guru yang bonafide, seorang Guru yang dapat dipercaya ke-Guru-annya, untuk membimbing sang siswa ke arah pengenalan spiritual. Kepada Guru yang bonafide yang telah diuji ke-Guru-annya seperti itulah seorang siswa hendaknya datang, bertanya dan meminta tuntunan.

Jika ia telah menemukan Guru seperti itu, jika ia telah mengetahui Guru spiritual seperti itu, seorang siswa hendaknya banyak menyampaikan pertanyaan-pertanyaan kepada Guru hanya untuk mengusir keragu-raguannya terhadap rahasia-rahasia hidup dan rahasia-rahasia Tuhan. Ia tidak akan mengganggu Gurunya dengan pertanyaan-pertanyaan remeh atau untuk membuat Gurunya pusing tanpa alasan. Kadang, siswa yang cerdas akan menyampaikan pertanyaannya melalui pelaksanaan pelayanan.

Guru akan mengoreksi sang siswa atau akhirnya memberkahi sang siswa lewat pelayanan yang dilakukan sang siswa. Seorang siswa spiritual yang awas akan memperoleh berbagai jawaban dari kedekatannya dengan Guru spiritual. Dari berbagai problem yang dihadapi, dari pertanyaan-pertanyaan yang dia sampaikan yang dijawab oleh sang Guru dia akan dapat mengetahui bahwa apakah Guru tersebut adalah Guru yang sejati ataukah seorang Guru yang palsu. Jika dia telah dapat mengetahui bahwa Guru yang memberikan jawaban-jawaban terhadap segala pertanyaan dan keraguannya, Guru yang memberikan jalan keluar yang tepat terhadap problem spiritualnya, Guru yang memberikan jalan terang terhadap kegelapan-kegelapan spiritual yang sedang menutupinya, maka langkah berikutnya dari sang siswa adalah langkah spiritual yang sangat menentukan langkah berikutnya.

Jika siswa meyakini sang Guru yang dihadapi adalah Guru sejati, maka dia akan minta diinisiasi oleh sang Guru. Inisiasi menunjukkan bahwa ia telah secara resmi diterima sebagai murid oleh Gurunya. Lebih jauh inisiasi berarti Guru mengambil dosa-dosa muridnya dan Guru memberikan spiritual power kepada muridnya sehingga siswa bisa maju dalam spiritualnya lebih baik dan lebih mulus. Jika seorang murid tetap tulus menjalankan anjuran-anjuran Gurunya, maka dia akan memperoleh kemjuan pesat dan pada akhirnya akan mencapai pembebasan dari kesengsaraan material.

Di dalam pencarian Guru sejati pada akhirnya memang terdapat kendala, yaitu banyak orang mengalami kekecewaan karena mereka menjumpai banyak Guru mengumbar kesaktian, banyak Guru yang mencari pengikut (walaupun ia sendiri sering menceramahkan bahwa seorang Guru hendaknya jangan mencari harta dan jangan mengumpulkan pengikut) yang banyak demi kepentingan pribadinya. Banyak Guru yang tidak pas di dalam tingkah lakunya, banyak Guru yang tidak menunjukkan tuntunan sastra dari segala apa yang diperintahkannya kepada siswa-siswanya. Beberapa kitab suci menyebutkan bahwa di zaman edan yang penuh kekalutan ini akan bermunculan dan bertebaran Guru-guru spiritual yang sangat banyak yang diumpamakan sebagai “ribuan mulut-mulut buaya” menganga di lautan siap menelan mangsanya. Dalam hal itu, seorang siswa spiritual tidak perlu harus berputus asa atau justru berbalik menempuh jalan yang tidak dianjurkan oleh sastra-sastra suci. Dia hendaknya tetap melanjutkan pencariannya, sebab bertemu dengan guru-guru palsu juga merupakan cobaan-cobaan dan ujian-ujian yang ditunjukkan oleh Tuhan Yang Maha Esa untuk menguji sang murid. Jika sang murid kecewa dan berbalik meninggalkan tujuan spiritualnya maka gagallah dia.

Sebaliknya, jika dia tetap dengan gigih tahan banting mengadakan pencarian spiritualnya, pada akhirnya Tuhan Yang Maha Berkarunia akan mengaruniai jalan yang pas. Tuhan Yang Maha Kuasa akan berkenan memberikan Guru yang tepat, Guru sejati, Guru yang akan benar-benar bertujuan hanya ingin mengantarkan muridnya kepada Kaki Padma Tuhan Yang Maha Esa.

Guru yang benar tidak akan memusatkan hubungan dengan muridnya lewat hal-hal duniawi, dalam arti tidak akan selalu menghubungkan hal-hal duniawi seperti uang, kesaktian dan lain-lain dalam “hubungan Guru-Murid”. Guru sejati memang sering menyembunyikan kesaktiannya atau menjauhkan muridnya dari iming-iming kesaktian demi sang murid tidak terpukau oleh harta, pengikut, kesaktian dan lain-lain yang pada akhirnya akan membawanya kepada kesadaran untuk melupakan bhakti kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Murid yang siap akan disediakan Guru yang tepat. Bilamana murid siap untuk menerima berkah Guru, disaat seorang murid berada dalam kesadaran spiritual yang sempurna, di dalam kesadaran yang betul-betul jauh dari keakuan palsu, maka pada saat itulah seorang Guru akan muncul untuk mengantarkan dia ke Kaki Padma Tuhan Yang Maha Kuasa. Hubungan antara Guru dan murid hanyalah hubungan cinta kasih dan ia terlepas dari hubungan-hubungan yang bersifat ikatan-ikatan material. Seorang Guru sejati menginginkan muridnya meningkat dalam kesadaran spiritual yang lebih tinggi dan tidak begitu menginginkan untuk melihat muridnya maju atau dikenal oleh orang banyak sebagai orang yang memiliki kegaiban-kegaiban atau kesaktian-kesaktian.

Keberhasilan-keberhasilan kecil, bagi seorang Guru, justru menghalangi keberhasilan-keberhasilan besar sang murid. Keberhasilan-keberhasilan besar yang dimaksud adalah keinsyafan spiritual sempurna, sedangkan keberhasilan kecil adalah keberhasilan seorang murid untuk memecahkan botol, untuk memakan beling (pecahan botol/kaca) atau untuk kebal dari tusukan pisau, untuk melakukan “trik-trik” agar ia dianggap sebagai orang hebat, misalnya mengajak siswanya kesuatu tempat yang sunyi, ketika sang siswa memejamkan mata, dengan tipuan tertentu “sang gutu” melemparkan keris, batu permata dari kaca, arca-arca kecil dan lain-lain seperti itu. Semoga disadari bahwa hal itu bukanlah keberhasilan. Sayangnya, sang siswa yang ditipu pun menganggap dirinya sedang memasuki tingkat keberhasilan.

Advertisements

Kenapa dan Mengapa Mendiang Romo Semono Sastrohadijoyo berPesan “Ojo Cawe-cawe” (jangan ikut campur): — “WONG EDAN BAGU”

Kenapa dan Mengapa Mendiang Romo Semono Sastrohadijoyo berPesan “Ojo Cawe-cawe” (jangan ikut campur): Oleh: Wong Edan Bagu. Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan. Di… Gubug Jenggolo Manik. Mulai Pukul: 15:15 hingga Pukul: 15:50. Pada Hari Rabu. Tanggal 6 Juni 2018. Para Kadhang kinasihku mengerti dan paham serta tahu, kenapa dan mengapa mendiang Romo Semono Sastrohadijoyo berPesan […]

via Kenapa dan Mengapa Mendiang Romo Semono Sastrohadijoyo berPesan “Ojo Cawe-cawe” (jangan ikut campur): — “WONG EDAN BAGU”

2

ALLAH Begitu Dekat pada Orang yang Berdoa;

Sudah begitu lama, ingin agar harapan segera terwujud. Beberapa waktu terus menanti dan menanti, namun tak juga impian itu datang. Kadang jadi putus asa karena sudah seringkali memohon pada Allah. Sikap seorang muslim adalah tetap terus berdo’a karena Allah begitu dekat pada orang yang berdo’a. Boleh jadi terkabulnya do’a tersebut tertunda. Boleh jadi pula Allah mengganti permintaan tadi dengan yang lainnya dan pasti pilihan Allah adalah yang terbaik.
Ayat yang patut direnungkan adalah firman Allah Ta’ala,

 

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al Baqarah: 186)
Sebagian sahabat radhiyallahu ‘anhum berkata,

 

يَا رَسُولَ اللَّهِ رَبُّنَا قَرِيبٌ فَنُنَاجِيهِ ؟ أَوْ بَعِيدٌ فَنُنَادِيهِ ؟ فَأَنْزَلَ اللَّهُ هَذِهِ الْآيَةَ

“Wahai Rasulullah, apakah Rabb kami itu dekat sehingga kami cukup bersuara lirih ketika berdo’a ataukah Rabb kami itu jauh sehingga kami menyerunya dengan suara keras?” Lantas Allah Ta’ala menurunkan ayat di atas. (Majmu’ Al Fatawa, 35/370)
Abul ‘Abbas Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Kedekatan yang dimaksud dalam ayat ini adalah kedekatan Allah pada orang yang berdo’a (kedekatan yang sifatnya khusus).” (Majmu’ Al Fatawa, 5/247)
Perlu diketahui bahwa kedekatan Allah itu ada dua macam:

  1. Kedekatan Allah yang umum dengan ilmu-Nya, ini berlaku pada setiap makhluk.
  2. Kedekatan Allah yang khusus pada hamba-Nya dan seorang muslim yang berdo’a pada-Nya, yaitu Allah akan mengijabahi (mengabulkan) do’anya, menolongnya dan memberi taufik padanya. (Taisir Al Karimir Rahman, hal. 87)

Kedekatan Allah pada orang yang berdo’a adalah kedekatan yang khusus –pada macam yang kedua- (bukan kedekatan yang sifatnya umum pada setiap orang). Allah begitu dekat pada orang yang berdo’a dan yang beribadah pada-Nya. Sebagaimana disebutkan dalam hadits pula bahwa tempat yang paling dekat antara seorang hamba dengan Allah adalah ketika ia sujud. (Majmu’ Al Fatawa, 15/17)
Siapa saja yang berdo’a pada Allah dengan menghadirkan hati ketika berdo’a, menggunakan do’a yang ma’tsur (dituntunkan), menjauhi hal-hal yang dapat menghalangi terkabulnya do’a (seperti memakan makanan yang haram), maka niscaya Allah akan mengijabahi do’anya. Terkhusus lagi jika ia melakukan sebab-sebab terkabulnya do’a dengan tunduk pada perintah dan larangan Allah dengan perkataan dan perbuatan, juga disertai dengan mengimaninya. (Taisir Al Karimir Rahman, hal. 87)
Dengan mengetahui hal ini seharusnya seseorang tidak meninggalkan berdo’a pada Rabbnya yang tidak mungkin menyia-nyiakan do’a hamba-Nya. Pahamilah bahwa Allah benar-benar begitu dekat dengan orang yang berdo’a, artinya akan mudah mengabulkan do’a setiap hamba. Sehingga tidak pantas seorang hamba putus asa dari janji Allah yang Maha Mengabulkan setiap do’a.
Ingatlah pula bahwa do’a adalah sebab utama agar seseorang bisa meraih impian dan harapannya. Sehingga janganlah merasa putus asa dalam berdo’a. Ibnul Qoyyimrahimahullah berkata, “Do’a adalah sebab terkuat bagi seseorang agar bisa selamat dari hal yang tidak ia sukai dan sebab utama meraih hal yang diinginkan. Akan tetapi pengaruh do’a pada setiap orang berbeda-beda. Ada yang do’anya berpengaruh begitu lemah karena sebab dirinya sendiri. Boleh jadi do’a itu adalah do’a yang tidak Allah sukai karena melampaui batas. Boleh jadi do’a tersebut berpengaruh lemah karena hati hamba tersebut yang lemah dan tidak menghadirkan hatinya kala berdo’a. … Boleh jadi pula karena adanya penghalang terkabulnya do’a dalam dirinya seperti makan makanan haram, noda dosa dalam hatinya, hati yang selalu lalai, nafsu syahwat yang menggejolak dan hati yang penuh kesia-siaan.” (Al Jawaabul Kaafi, hal. 21). Ingatlah hadits dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

لَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَمَ عَلَى اللَّهِ تَعَالَى مِنَ الدُّعَاءِ

Tidak ada sesuatu yang lebih besar pengaruhnya di sisi Allah Ta’ala selain do’a.” (HR. Tirmidzi no. 3370, Ibnu Majah no. 3829, Ahmad 2/362. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan). Jika memahami hal ini, maka gunakanlah do’a pada Allah sebagai senjata untuk meraih harapan.
Penuh yakinlah bahwa Allah akan kabulkan setiap do’a. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ

Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai.” (HR. Tirmidzi no. 3479. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)
Lalu pahamilah bahwa ada beberapa jalan Allah kabulkan do’a. Dari Abu Sa’id, Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

« ما مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ وَلاَ قَطِيعَةُ رَحِمٍ إِلاَّ أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلاَثٍ إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِى الآخِرَةِ وَإِمَّا أَنُْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا ». قَالُوا إِذاً نُكْثِرُ. قَالَ « اللَّهُ أَكْثَرُ »

Tidaklah seorang muslim memanjatkan do’a pada Allah selama tidak mengandung dosa dan memutuskan silaturahmi (antar kerabat, pen) melainkan Allah akan beri padanya tiga hal: [1] Allah akan segera mengabulkan do’anya, [2] Allah akan menyimpannya baginya di akhirat kelak, dan [3] Allah akan menghindarkan darinya kejelekan yang semisal.” Para sahabat lantas mengatakan, “Kalau begitu kami akan memperbanyak berdo’a.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, “Allah nanti yang memperbanyak mengabulkan do’a-do’a kalian.” (HR. Ahmad 3/18. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanadnya jayyid). Boleh jadi Allah menunda mengabulkan do’a. Boleh jadi pula Allah mengganti keinginan kita dalam do’a dengan sesuatu yang Allah anggap lebih baik. Atau boleh jadi pula Allah akan mengganti dengan pahala di akhirat. Jadi do’a tidaklah sia-sia.
Ingatlah wejangan yang amat menyejukkan hati dari cucu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Al Hasan bin ‘Ali radhiyallahu ‘anhuma berkata,

 

من اتكل على حسن اختيار الله له، لم يتمن شيئا. وهذا حد الوقوف على الرضى بما تصرف به القضاء

Barangsiapa yang bersandar kepada baiknya pilihan Allah untuknya maka dia tidak akan mengangan-angankan sesuatu (selain keadaan yang Allah pilihkan untuknya). Inilah batasan (sikap) selalu ridha (menerima) semua ketentuan takdir dalam semua keadaan (yang Allah) berlakukan (bagi hamba-Nya)” (Lihat Siyaru A’laamin Nubalaa’ 3/262 dan Al Bidaayah wan Nihaayah 8/39). Pilihan Allah itulah yang terbaik.
Wallahu waliyyut taufiq.
Panggang-Gunung Kidul, 7 Jumadats Tsaniyah 1432 H (10/05/2011)
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel www.muslim.or.id

 

“Ya Tuhan, terima kasih karena Kau telah mencintai dan menerimaku apa adanya.. bantulah aku untuk melakukan hal yang sama.. dan bantulah aku untuk tumbuh menjadi sesuai dengan kehendakMu sehingga rasa percaya diriku akan bertambah; semuanya demi keagungan namaMu dan bukan namaku. Terima kasih karena Engkau telah mendengarkan dan menjawab doaku. Amin.” (Daily Encounter, Strengthen Your Self-Confidence, Acts International)